Sunday, February 17, 2002

Pacitan, Kota Seribu Goa

Ia menyimpan sederet goa yang mampu menebar pesona menakjubkan. Dan julukan 'Kota Seribu Goa' pun disandangkan padanya.Anda pernah ke Pacitan? ''Datanglah ke sana. Daerah itu memiliki banyak objek wisata yang amat menawan,'' kata Marzuki Usman di depan publik, ketika selaku Menparsenibud ia mengukuhkan Masyarakat Peduli Pacitan di Jakarta beberapa tahun lalu.

Meski bernada propaganda, anjuran Marzuki Usman itu memang tak berlebihan. Pacitan benar-benar memiliki pesona alam yang sungguh elok. Beragam obyek wisata dapat kita nikmati di wilayah Jawa Timur paling barat yang berbatasan dengan Jawa Tengah itu. Objek wisata pantai, alam pegunungan, dan wisata sejarah, hanyalah beberapa contoh saja.

Dengan luas yang nyaris mencapai 1.500 kilometer persegi dan 70 persen wilayahnya berupa alam pegunungan, Pacitan ibarat sebuah padang gersang yang menyimpan panorama eksotik dan menakjubkan. Rasa takjub itu akan kian terasa manakala kita mendapati ribuan goa yang tersebar di antara gugusan alam pegunungan itu. Bahkan lantaran banyaknya fenomena alam yang mampu menggetarkan hati setiap pengunjungnya itu, Marzuki Usman sempat menjuluki Pacitan sebagai ''Kota Seribu Goa''.

Pegunungan di Pacitan -- yang membentang dari Gunung Kidul (Yogyakarta) hingga daerah Malang Selatan -- sungguh berbeda dengan daerah lain. Beberapa ujungnya kebanyakan berbentuk lancip mengerucut ke atas seolah menantang langit. Di bawahnya berhampar ngarai yang penuh daratan tandus dan batuan kapur. Karena tipologi inilah, Pacitan pernah dituding sebagai basis latihan militer para relawanperang Afghanistan. Di antara sederetan goa yang kini telah dioptimalkan sebagai objek wisata adalah Goa Tabuhan, Putri, Gong, Kalak, dan Goa Luweng Jaran. Keseluruhan goa itu berlapiskan stalagtit dan stalagmit.

Dindingnya berukiran alam tak beraturan dan masih setia menetaskan air bening, yang menyerupai butiran mutiara dan intan jika diterpa cahaya. Ia juga mampu memantulkan sinar kebiruan, kekuningan emas, merah saga, dan gemerlap warna-warni lainnya. Fantastis!Masing-masing goa memiliki keunikan, legenda, dan mitos tersendiri. Goa Tabuhan yang berlokasi di bukit kapur Tapan misalnya, memiliki langit-langit penuh akar batu yang bergelantungan. Oleh para ahli goa, proses pembentukan stalagtit dan stalagmit ini diyakini sudah berlangsung beratus tahun lalu, karena adanya reaksi kimia antara hujan dan mineral kapur.

Dengan panjang rata-rata hingga tujuh meter dan diameter hingga satu meter, stalagtit dan stalagmit di goa yang termasuk wilayah Dukuh Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung, sekitar 25 kilometer arah barat kota Pacitan iti tampak menyerupai pilar-pilar raksasa yang sangat menakjubkan.Stalagtit dan stalagmit yang bertengger di mulut goa ini bahkan mempunyai keistimewaan yang tak terdapat pada goa-goa lain. Boleh dikata malah sebagai sebuah keajaiban dunia: Bila dipukul, beberapa akar batu itu mampu mengeluarkan bunyi sesuai laras gamelan Jawa. Keistimewaan ini pula yang mendorong warga setempat membentuk kelompok gamelan Hangudi Laras Selo Argo. Kelompok inilah yang selama ini tampil membawakan gending-gending Jawa, lagu dangdut, atau lagu pop bagi wisatawan yang ingin menikmati musik alam. '

'Musik batu'' ini biasanya dimainkan oleh tujuh personil. Ketujuh waranggana itu acap menyanyikan tembang Jawa dengan mengikuti gending pangkur, uyon-uyon, sinom, sarung jagung, dan ojo lamis. Wisatawan yang ingin menikmati ''konser'' musik alam ini cukup mengeluarkan uang Rp 50 ribu untuk tampilan lima tembang. ''Tiket''ini sudah termasuk upah bagi para waranggana untuk mengantarkan wisatawan -- sambil membawa lampu petromaks -- menembus lorong goa yang gelap sepanjang 300 meter.Sehebat apa tampilan konser itu, memang tak terbayangkan. Tapi faktanya tak hanya wisatawan yang terpikat. Musisi folk sekelas Uly Sigar Rusady pun sempat terkagum-kagum.

Di tahun 1997, kelompok ini bahkan pernah berunjuk kebolehan ketika diminta berkolaborasi oleh Uly dalam pembuatan sebuah video klip nyanyian alam anak negeri.''Konon, Goa Tabuhan ini dahulu menjadi tempat bertapa Sentot Prawirodirjo, salah satu pengikut Panglima Diponegoro pada masa perang kemerdekaan,'' kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pacitan, Hari Budi Sulistyanto, kepada Republika belum lama ini.Lain dengan Goa Putri. Ia ditemukan oleh masyarakat tanpa sengaja pada tahun 1994. Mengapa disebut Goa Putri, karena -- konon -- goa ini pernah digunakan sebagai tempat bertapa seorang wanita. Di dalam goa ini terdapat semacam sendang (sumber air, Red).

Air sendang yang bening dan amat dingin itu, diyakini masyarakat setempat bisa dijadikan obat awet muda. Tidak heran bila kemudian banyak wisatawan ikut mempercayainya. Tak sedikit wisatawan berusaha mengambil air atau sekadar membasuh muka di sela-sela kunjungannya ke goa yang terletak di Desa Kendal, Kecamatan Punung, sekitar 32 kilometer arah barat kota Pacitan.Yang tak kalah menakjubkan adalah Goa Gong. Stalagtit dan stalagmit di dalamnya menyerupai pilar-pilar raksasa peyangga goa. Keistimewaan goa ini adalah kedalamannya yang mencapai 256 meter, memiliki sembilan ruangan besar, dan lima sendang yang menarik dengan taburan batu-batu kristal ajaib.

Objek wisata ini terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung.Pacitan memang tak hanya memiliki goa yang menawarkan keindahan stalagmit dan stalagtit serta rilief batuan dan sendang. Goa Luweng Jaran misalnya, menawarkan pesona yang beda. Ia menyuguhkan daratan tanah yang amat luas sekitar tiga hektare. Sesuai penelitian ahli goa -- baik dari dalam negeri atau mancanegara -- goa ini merupakan goa terpanjang dan terbesar di dunia. Lokasinya terletak di Desa Jublang, Kematan Pringkuku, yang bisa ditempuh hanya dalam waktu 30 menit dari kota Pacitan.Ranah Pacitan yang berpegunungan juga menyimpan sejarah perjuangan bangsa.

Pada perang kemerdekaan dahulu, daerah ini merupakan benteng sekaligus markas pertahanan akhir perang gerilya yang dilakukan Panglima Soedirman. Di kota inilah dahulu Panglima Soedirman mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.Untuk mengenang kegigihan itu dibangunlah sebuah monumen megah berupa patung Panglima Jenderal Soedirman. Patung setinggi delapan meter yang terbuat dari batuan marmer hitam itu bertengger di gugusan pegunungan Desa Pakis, Kecamatan Nawangan. Ia adalah buah karya Roto Suwarno, warga setempat yang amat mencintai dan mengagumi kegigihan perjuangan Panglima Soedirman.Tak jauh dari lokasi monumen terdapat rumah peninggalan yang pernah pula dijadikan markas gerilya yang setia pada tanah air. Di ruang tengah rumah yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu berluas 4 x 8 meter ini terpampang sebuah foto perang gerilya Panglima Soedirman bersama sembilan orang dekatnya. Termasuk Roto, Soeparjo Roestam, dan Tjokropranolo.Wisatawan tak perlu cemas akan tempat penginapan.

Di kota Pacitan sudah banyak berdiri penginapan dan hotel berkelas, dengan tarif yang tak terlalu mahal. Di antaranya adalah hotel Bali Queen dan Happy Beach Bungalow, dengan gaya arsitektur berbabu budaya Bali.

Setelah lelah berkeliling dan menikmati keelokan goa, wisatawan bisa pula menikmati pesona objek wisata pantai. Pacitan yang berada di pantai selatan, memiliki objek wisata terkenal, di antaranya adalah Pantai Telengria, Srau, Segara Anakan, dan Pantai Klayar.Pantai Telengria hanya sekitar 3 kilometer. Ia adalah pantai yang landai dengan butiran pasir yang membentang hingga satu kilometer. Pada bagian lain pantai ini terdapat kawasan terjal, mengarah ketanjakan pegunungan dengan rerimbunan hutan. Inilah daya tarik utama Pantai Telengria.

Lokasinya tak jauh dari kota membuat wisatawan -- yang menginap di hotel -- bisa menikmati panorama yang elok itu ketika matahari terbit sambil menghirup udara segar. Pantai ini memang telah mendapat sentuhan yang memadai. Punya tempat penginapan, kolam renang, kolam pancing. ''Dalam waktu dekat, pemerintah daerah juga bakal mendatangkan perahu wisata untuk Pantai Telengria ini,'' kata Hari Budi Sulistyanto.Wisatawan juga bisa mengunjungi Pantai Srau. Lokasi ini terdapat lokasi pemancingan alam dengan air laut yang biru dan sangat jernih, yang biasa disebut area pancing samudera.

Itu karena letaknya sangat menjorok ke tengah samudera, sehingga siapa pun dapat melihat gerak-gerik ragam ikan di laut lepas.Tak kalah menariknya adalah Pantai Klayar, yang terletak di Desa Kalak Kecamatan Donorojo, 15 km arah barat kota Pacitan. Pantai ini memiliki panorama menakjubkan: Bentangan pasir putih dengan latar pemandangan nyiur. Bibir pantainya sedikit berhiaskan batuan cadas hitam kokoh. Bila deburan ombak datang, percikan airnya selalu menjanjikan pemandangan elok.Tak hanya alam pegunungan dan pantai yang dimiliki Pacitan. Daerah ini juga menyimpan banyak sendang alias sumber air.

Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah sendang Banyu Anget, yang terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari. Airnya mengandung belerang yang juga diyakini bisa menyembuhkan beragam penyakit kulit.Ragam potensi wisata yang menjanjikan memang dimiliki Pacitan. Tapi mengapa pamor kota ini tak pernah terangkat? Selain sebagian besar obyek wisata itu belum dikemas secara optimal -- dan ini menjadikannya tampak masih perawan, jauh dari sentuhan 'kenakalan' modernitas -- letaknya yang terpencil juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.''Daerah Pacitan cukup terisolir. Tiga pintu jalur menuju kota Pacitan dahulu kurang memadai, sehingga banyak wisatawan enggan datang ke sini,'' kata Hari. Tapi, tambahnya, kini pihaknya gencar mempromosikan objek wisata Pacitan.

Di antaranya bekerjasama dengan perhotelan dan biro perjalanan, serta selalu mengikuti setiap kesempatan pameran potensi daerah di tanah air.Tiga jalur menuju Pacitan itu adalah pintu masuk melalui Ponorogo (berjarak 80 km), Trenggalek (110 km), dan melalui Wonogiri, Jawa Tengah, (120 km). Jalur yang disebut terakhir ini adalah yang paling memadai. Itu sebabnya, selama ini akses perekonomian Pacitan lebih condong ke Jateng. Termasuk dalam pengembangan potensi wisatanya, yaitu dengan menggandeng pemda di Jawa Tengah seperti tecermin dalam program ''Pawonsari'' -- Pacitan, Wonogiri, dan Wonosari.Jalur Ponorogo -- yang dulu hanya memiliki badan jalan dengan selebar tiga meter -- sejak 1997 telah dilebarkan.

Ini merupakan program Pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Di jalur ini sedikitnya terdapat sekitar 280 kelokan, yang naik-turun tajam melalui gugusan pegunungan. Ini membuat perjalanan terasa mengesankan. Ketika hendak memasuki kota Pacitan, wisatawan bisa menikmati liku-liku sungai Grindulu dengan gemericik air yang mengalir di sela dasar yang berbatuan. Sungai yang selama ini menjadi sumber inspirasi bagi para sasterawan.Minim dan sulitnya jalan menuju Pacitan di sisi lain menjadikan tempat ini aman dan nyaman.

Kalau pun terjadi tindak kriminal di sini, dipastikan pelakunya tertangkap segera. Ini karena selain panjang, tiga jalur itu tak memiliki penghubung lagi, sehingga memudahkan aparat memonitor wilayah. Sungguh sebuah kenyamanan obyek wisata yang alami. sunarwoto prono legsono. (Sumber : Harian Republika, 17 Februari 2002).